Tampilkan postingan dengan label puisi Slamet Sukirnanto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi Slamet Sukirnanto. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Oktober 2009

Puisi Sungai Musi – Slamet Sukirnanto

|0 komentar
Puisi dengan judul Sungai Musi karangan Slamet Sukirnato, bertemakan tentang Sungai Musi yang ada di Palembang.

Sungai Musi

Malam-malam : menyusuri Musi
Bulat bulan tenggelam dalam sekali
Yang kutangkap dari keruh kali
Wahai – mengendap!

Kau tahu, saudaraku ? Derum stempel
Ujungnya menusuk ombak.Membelah kolam di muka
Jung-jung rakit berdesak sempoyang pergi
Berkayuh dengan gapai dayung jadi
Menyusup kabut yang enggan berganti!

Gemerlap lampu-lampu, penerang gubuk-gubukmu
Bermain dipermukaan arus! Dan hati tak mau tembus
Di sini pada mulanya tersendat berhenti!

Kala kota: masih berpanas sekali
Spanda! Seorang lelaki menjejak tepi!

Karya: Slamet Sukirnanto

Senin, 07 September 2009

Puisi Layang-layang Miliku – Slamet Sukirnanto

|0 komentar
Layang-layang Milikku

Layang-layang milikku, kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Di alam raya bersama burung-burung yang bebas
Lihatlah dari sana, negeri-negeri yang jauh
Adakah negeri-negeri bebas yang angkuh?

Satu pesan yang kusampaikan dari bumi ini
Janganlah meninggalkan daku, kemudian kau pergi
Sebab jarak antara kita akan semakin jauh
Di kota ini aku sendiri dengan pijar nasib.

Layang-layang milikku, Kumanjakan kau
Membubung di langit biru
Sampaikan Salam : hidup teguh di sini
Nyanyian bumi dalam wujud puisi.

By: Slamet Sukirnanto, 1966

Puisi Catatan Harian Seorang Demonstran – Slamet Sukirnanto

|0 komentar
Catatan Harian Seorang Demonstran

Jaket kuning berlumur darah
Dengan sedih kututup kawan-kawan rebah
Di bumi, diterik matahari kota Jakarta
O, kita tahu apa arti ini semua.

Tertegun di tengah galau beribu massa
Apakah benar peluru itu untuk nya?
Yang sebuah itu mungkin untukku
Telah direbut demonstran di sampingku

Udara panas kota Jakarta
Kulihat ciliwung tetap coklat airnya
Alirnya lambat mengandung duka
Apakah ini: bayang-bayang nasib kita?

Jaket kuning berlumur darah
Nyanyian gugur bunga, dalam syahdu khidmat kita
Dalam catatan harian ini semua kulihat
Dalam catatan harian ini tertulis sendat.

By: Slamet Sukirnanto, 1966